Rabu, 17 Juni 2009

Sab'atu Ahruf

Penyusun : Dr. KH. Ahmad Fathoni, Lc, MA.
قال رسول الله صلي الله عليه وسلّم: أقرأني جبريل على حرف فراجعته فلم أزل أستزيده ويزيدني حتى انتهى على سبعة أحرف
Rasulullah SAW bersabda, “Jibril telah membacakan Al-Quran kepadaku dalam satu huruf. Aku berulang-ulang membacanya. Selanjutnya aku selalu meminta kepadanya agar ditambah, sehingga ia menambahnya sampai tujuh huruf. (H.R. Bukhori Muslim)


Dengan demikian, jelaslah bahwa tidaklah benar anggapan orang bahwa Qiraat (macam-macam bacaan) Al-Quran itu diciptakan oleh Nabi Muhammad atau para sahabat, atau ulama tabi’in yang dipengaruhi oleh dialek bahasa kabilah-kabilah Arab. Dan jelas pula bahwa macam-macam bacaan Al-Quran itu sudah ada sejak Al-Quran diturunkan.
Arti Sab’atu Ahruf (Tujuh Huruf) dalam hadits di atas mengandung banyak penafsiran dan pendapat dari kalangan ulama. Hal itu disebabkan karena kata Sab’ah itu sendiri dan kata Ahruf mempunyai banyak arti. Kata Sab’ah dalam bahasa Arab bisa berarti bilangan tujuh, dan bisa juga berarti bilangan tak terbatas. Sedang kata Ahruf adalah jama dari harf yang mempunyai macam-macam arti, antara lain, salah satu huruf hijaiyah, makna, saluran air, wajah, kata, bahasa, dan lain-lain. Para Ulama telah mencoba menfsirkan Sab’atu Ahruf, yang menurut Imam As-Suyuti, tidak kurang dari empat puluh penafsiran.
Penafsiran yang paling masyhur pendapat dari Abul Fadl Ar-Razi. Dia mengatakan bahwa arti Sab’atu Ahruf adalah tujuh wajah/bentuk. Maksudnya keseluruhan Al-Quran dari awal sampai akhir tidak akan keluar dari tujuh wajah perbedaan berikut:
1. Perbedaan bentuk isim (mufrad, mutsanna, atau jama’)
2. Perbedaan bentuk fi’il (madi, mudari’, atau amr)
3. Perbedaan bentuk i’rab (rafa’, nasab, jar, atau jazam)
4. Perbedaan bentuk naqis (kurang) atau ziyadah (tambah)
5. Perbedaan bentuk Taqdim dan Ta’khir (mendahulukan dan mengemudiankan)
6. Perbedaan bentuk Tabdil (pergantian huruf atau kata)
7. Perbedaan bentuk dialek (lahjah) seperti bacaan Imalah, Taqlil, Idgham, Izhar, dan lain-lain
Qiraat atau macam-macam bacaan Al-Quran itu telah mantap pada masa Rasulullah SAW, dan beliau ajarkan kepada para sahabat sebagaimana beliau menerima bacaan itu dari Jibril AS. Kemudian pada masa sahabat telah mucul banyak ahli bacaan Al-Quran yang menjadi anutan masyarakat. Yang termasyhur, antara lain, Ubay, Ali, Zid bin Sabit, Ibnu Mas’ud, dan Abu Musa Al-Asy’ari. Mereka itulah yang menjadi sumber bacaan Al-Quran bgi sebagian besar sahabat dan sahabat tabi’in.
Kemudian pada masa tabi’in seratus tahun pertama hijriah, segolongan masyarakat telah mengkhususkan diri dalam penentuan bacaan Al-Quran karena keadaan memerlukannya. Mereka menjadikan Qiraat sebagai suatu ilmu pengetahuan, sebagaimana mereka lakukan terhadap ilmu-ilmu syari’at yang lain.
Akhirnya mereka menjadi imam-imam Qiraat yang dianut orang dan menjadi tempat kembali. Namun dalam perkembangannya, Qiraat menghadapi masalah yang perlu ditangani secara serius, sebagai akibat adanya hadits Nabi yang menerangkan bahwa Al-Quran diturunkan dengan beberapa wajah bacaan, banyak bermunculan yang semuanya mengaku bersumber dari Rasulullah SAW.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar