Minggu, 07 Februari 2010

Tafsir Al-Quran (1)

Berbicara mengenai Al-Quran, Syaikh Muhammad Aly Ash-Shabuni mengatakan:

فلا يزال القرآن الكريم بحرًا زاجرًا بأنواع العلوم والمعارف, يحتاج من يرغب الحصول على لألئه ودرره, أن يغوص في أعماقه, ولا يزال القرآن يتحدَّى أساطين البلغاء, ومصاقيع العلماء ...
Al-Quran seperti samudera yang membutuhkan seseorang yang bisa meyelami Al-Quran hingga ke dasarnya....

Konsep Cahaya dalam Al-Quran

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (Q.S. An-Nuur 35)




Allah SWT menisbahkan Nama-Nya dengan cahaya, yang bermakna هَادِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ bahwa Allah SWT Yang Memberikan petunjuk kepada mahluk yang ada di langit dan di bumi.

Sesuatu yang disandarkan dengan nama / lafadz Jalalah menunjukkan للتشريف والتعظيم (untuk memuliakan dan mengagungkan)

Ketika Rasulullah SAW ditanya oleh para sahabat tentang peristiwa isra mi’raj setelah naik ke sidratul Muntaha, maka Rasulullah bersabda, “Aku melihat pancaran cahaya>

Allah SWT menisbahkan diri-Nya dengan Nuur, Rasulullah SAW juga dinisbahkan kepada Nuur.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ
(Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan . (Q.S. Al-Maidah: 15)
Cahaya dalam di atas maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW, sedangkan dalam ayat lain cahaya maksudnya adalah Al-Quran sebagaimana dalam ayat berikut:

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنزَلْنَا ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al Qur'an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat di atas tentang penyebutan maksud cahaya adalah Al-Quran senada dengan ayat berikut:

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَ‌ٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.

Pada ayat di atas terdapat kalimat مَيْتًا yang artinya adalah orang yang sudah mati sangat berbeda maknanya dengan kalimat مَيِّتٌ pada ayat
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ
Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).
Kata مَيِّتٌ di atas bermakna orang yang akan mati
Allah SWT yang dinisbahkan dengan Nuur disebut pula Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),.

Sementara itu, hidayah (memberikan petunjuk) terbagi ke dalam 2 bagian:
1. هداية الدلالة والإرشاد (kemampuan untuk menunjukkan dan mengarahkan)
Kemampuan untuk menunjukkan atau mengarahkan seseorang terhadap sesuatu ini mungkin dimiliki setiap orang, berbeda dengan hidayah yang kedua
Contoh hidayah jenis ini seperti yang dimiliki oleh Rasulullah SAW termaktub di dalam Al-Quran
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Q.S. As-Syuura: 52)
2. هداية التوحيد (kemampuan untuk memberikan hidayah keimanan dan ketauhidan kepada Allah SWT)
Hidayah jenis ini hanya prerogatif mutlak milik Allah SWT sebagaimana termaktub di dalam Al-Quran:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk

Ayat di atas berkaitan dengan penegasan dari Allah SWT bahwa Nabi Muhammad pun tidak bisa memiliki kewenangan untuk memberikan hidayah ketauhidan kepada pamannya sendiri.

Demikian beberapa kutipan kajian rutin tafsir Al-Quran di Mesjid As-Siraj Ma’had Tahfidz & Ilmu Al-Quran Al-Mukhlishin yang disampaikan oleh Ust. Ali Ridwan, Lc Alumni Fakultas Tafsir & Ilmu Al-Quran Univesitas Al-Azhar Kairo Mesir. Beliau seorang da’I muda yang memiliki ghirah dan tadhiyah (semangat pengorbanan) yang tinggi dengan menyempatkan untuk memberikan taushiyah kepada warga Cidaplang walaupun harus menempuh perjalanan 1,5 jam dengan kendaraan bermotor di malam hari. Semoga saja Umat semakin tercerahkan dengan banyaknya orang-orang seperti beliau. Amiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar